Sunk Cost

SUNK COST

The sunk cost effect refers to a tendency to continue an endeavour once an investment in money, effort or time has been made (Arkes & Blumer, 1985), in the face of being more “economical” not continuing it at present. This effect is also known as the “Concorde fallacy”, or the “Don’t waste rule”.

Sunk cost dalam Bahasa Indonesia memiliki beberapa arti diantaranya adalah biaya terpendam, biaya tertanam, biaya tenggelam dan beberapa arti lain. Namun secara ekonomi sunk cost adalah jenis biaya yang berhubungan dengan pengambilan keputusan.

Definisi yang lain, Sunk cost adalah biaya yang telah dikeluarkan dan tidak dapat dipulihkan kembali. Sebelum dikeluarkan, sunk cost termasuk ke dalam bagian opportunity cost(sebagai dana cadangan atau lainnya) dan tidak relevan terhadap pengambilan keputusan di masa depan. Istilah ini berasal dari industri minyak dimana keputusan untuk menghentikan atau melanjutkan pengoperasian sumur minyak dibuat atas dasar arus kas yang diharapkan dan tidak berdasarkan pada banyak uang dihabiskan dalam pengeboran itu. Hal ini biasa disebut dengan biaya tertanam(embedded cost), biaya tahun sebelumnya(prior year cost), biaya terdampar(stranded cost), atau modal tenggelam(sunk cost)

Menurut kamus akuntansi sunk cost adalah biaya yang timbul pada masa lalu yang tidak akan terpengaruh pengambilan keputusan pada saat ini. Contohnya adalah sebuah mesin yang dibeli dangan harga $400.000 tiga tahun yanglalu mempunyai nilai buku sebesar $40.000. Nilai buku sebesar $40.000 ini tidak akan mempengaruhi keputusan dimasa datang tentang penggantiannya.

Dalam dunia akuntansi sunk cost diartikan sebagai biaya yang sudah terjadi dan pada umumnya tidak dapat dipulihkan.

Beberapa ahli mengungkapkan Sunk cost sebagai biaya masa lalu yang digunakan untuk investasi yang diperlukan oleh perusahaan.

Sunk cost berhubungan dengan fixed cost maka untuk menghitung sunk cost dapat menggunakan rumusan fixed cost, yaitu sebagai berikut:

Fixed cost = Sunk cost + Avoidable Fixed Cost

Jika dilihat dari rumusan fixed cost yaitu terdiri dari sunk cost dan dan avoidable fixed cost. Avoidable fixed cost adalah komponen dari fixed cost yang dapat dihindari, tetapi sunk cost adalah komponen dari fixed cost yang tidak dapat dihindari.

Sunk cost juga dapat dikatakan sebagi biaya yang tidak berhubungan dengan kegiatan produksi perusahaan. Contohnya seperti biaya kontrak gaji manajer. Manajer adalah seseorang yang tidak bersentuhan dan berhubungan langsung dengan produksi namun biaya gaji manajer tidak dapat dihindari dari pengeluaran biaya. Biaya gaji manajer tersebut disebut dengan sunk cost.

Biaya lain yang termasuk sunk cost adalah biaya PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Beban yang dibebankan karena PBB adalah biaya yang tidak dapat dihindari dan PBB tidak berhubungan langsung dengan produksi sehingga biaya PBB disebut biaya sunk cost.Berdasarkan penjelasan tersebut  sunk cost dapat juga disebut biaya yang tidak dapat dihindari karena adanya komitmen dan persetujuan, perjanjian atau kontrak sebelumnya.

Pengambilan keputusan yang rasional, berdasarkan teori ekonomi, berasumsi manajer perusahaan berusaha memaksimalkan keuntungan perusahaan. Manajer harus menginvestasikan dalam proyek-proyek yang memberikan keuntungan terbesar bagi perusahaan dan secara periodik menilai kinerja ekonomis dari proyek-proyek itu. Mereka harus meneruskan proyek-proyek yang menguntungkan dan untuk menghindari kerugian, manajer harus menghentikan proyek-proyek yang tidak menguntungkan. Dalam melakukan pertimbangan ini manajer harus mengabaikan sunk cost yang telah terjadi.

Meski demikian, berbagai bukti empiris yang telah didapatkan menunjukkan bahwa manajer yang memulai suatu proyek yang kemudian menjadi tidak menguntungkan justru lebih cenderung untuk meneruskan proyek itu daripada manajer yang tidak memulai proyek (Staw, 1976, 1981). Perilaku para pengambil keputusan ini sering disebut sebagai eskalasi komitmen. Eskalasi komitmen merujuk pada tendensi oleh pengambil keputusan untuk bertahan atau mengeskalasi komitmennya pada serangkaian tindakan yang gagal (Brockner, 1992). Bazerman (1994) mendefinisikan eskalasi sebagai tidak rasional (nonrational escalation of commitment) adalah derajat di mana individu mengeskalasikan komitmen untuk tindakan-tindakan tertentu yang dilakukan sebelumnya sampai satu titik yang melewati model pengambilan keputusan yang rasional. Individu atau manajer umumnya mempunyai kesulitan dalam memisahkan keputusan yang diambil sebelumnya dengan keputusan yang berhubungan ke masa depan. Sebagai konsekuensinya, individu akan cenderung membiaskan keputusannya oleh karena tindakan di masa lalu dan mempunyai tendensi untuk mengeskalasi komitmen terutama bila menerima umpan balik negatif (Bazerman, 1994).

Dalam dunia ekonomi dikenal juga ada istilah sunk cost dilemma. Teori ini mengungkapkan bahwa sunk cost tidak perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan baik keputusan tersebut akan meyebabkan sebuah keuntungan atau justru mendatangkan sebuah bencana besar pada masa mendatang.

Secara garis besar sunk cost adalah biaya yang digunakan untuk memulai sebuah proyek. Biaya tersebut tidak akan mempengaruhi aruskas pada masa sekarang atau masa depan baik proyek tersebut berhasil maupun gagal.

Efek sunk cost mengacu pada kecenderungan untuk terus berinvestasi dalam uang, usaha, atau waktu yang telah ada (Arkes & Blumer, 1985), pada faktanya agar lebih ekonomis, sunk cost tidak lagi digunakan saat ini. Efek ini juga dikenal sebagai “kekeliruan Concorde”, atau “Jangan buang aturan”

Dalam pengambilan keputusan bisnis, sunk cost adalah biaya retrospektif yang telah dikeluarkan dan tidak dapat dipulihkan. Sunk cost kontras dengan biaya prospektif, biaya masa depan yang mungkin timbul atau berubah jika suatu tindakan diambil. Biaya retrospektif dan prospektif dapat bersifat tetap (artinya tidak tergantung pada volume kegiatan ekonomi, namun dapat diukur) atau bersifat variabel (tergantung pada volume).

Dalam ekonomi mikro, hanya biaya prospektif yang relevan dengan keputusan investasi. Jika sunk cost dimasukkan dalam pengambilan keputusan, maka hal itu tidak rasional untuk menilai keputusan karena terlalu subjektif. Pembuat keputusan dapat membuat keputusan sesuai dengan inisiatif mereka sendiri sehingga mereka bisa mendikte keputusan yang berbeda dan belum tentu efisien. Sunk cost tidak mempengaruhi dalam pengambilan keputusan karena dalam pembuatan keputusan, manusia dapat saja menerima atau menolak sehingga bisa saja mereka bertindak tidak rasional ketika membuat keputusan.

Sunk cost tidak mempengaruhi apakah pilihan si pembuat keputusan rasional atau tidak, hingga pembuat keputusan mengelola sumber dayanya sehingga ada calon biaya, yaitu biaya masa depan yang dapat dihindari atau benar termasuk dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Contoh: jika Anda mempertimbangkan membeli tiket preordering film, namun belum benar-benar membeli, hal itu termasuk calon biaya sehingga dapat dihindari(tidak membeli) dan jika harga tiket naik, Anda harus memasukkan perubahan biaya dalam pertimbangan pembuatan keputusan dan mengevaluasi kembali keputusan sebelumnya.

Para ekonom berpendapat bahwa sunk cost tidak diperhitungkan dalam pembuatan keputusan yang rasional. Dalam kasus tiket film, jika tiket telah dibeli dan pembeli ternyata tidak menyukai film tersebut, maka ada dua kemungkinan tindakan:

Tetap menonton, atau
Batal menonton dan memilih aktivitas lain yang lebih diminati.

Dalam kedua kasus, pembeli telah membayar harga tiket sehingga bagian dari keputusan tidak lagi mempengaruhi masa depan. Jika pembeli menyesal membeli tiket, keputusan saat ini harus didasarkan pada apakah ia ingin melihat film atau tidak. Ekonom ingin menunjukkan bahwa kedua pilihan sama merugikan, pilihan pertama Anda sudah rugi biaya dan waktu sedangkan pilihab kedua Anda hanya rugi biaya, tetapi waktu Anda dapat digunakan untuk hal yang Anda minati.

Sunk cost dapat menyebabkan biaya over-run. Perilaku ekonomi sering mempengaruhi keputusan ekonomi karena loss aversion: harga yang dibayarkan menjadi patokan untuk nilai, sedangkan harga yang dibayar harus relevan. Hal ini dianggap perilaku irasional. Para ekonom mencoba menunjukkan bahwa kekeliruan sunk cost dan loss aversion umum terjadi karena irasionalitas.

Dua fitur khusus karakteristik sunk cost adalah:

Bias probabilitas terlalu optimis, dimana setelah investasi-evaluasi, investasi diyakini akan membuat dividen meningkat.
Diperlukan tanggung jawab pribadi. Sunk cost yang muncul membuat si pengambil keputusan merasa bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan.

Banyak orang memiliki keraguan tentang “membuang” sumber daya (loss aversion). Dalam contoh di atas, tiket film tidak dapat dikembalikan, kebanyakan orang akan merasa berkewajiban untuk pergi ke bioskop meskipun tidak benar-benar meninginkannya, karena merasa menyia-nyiakan biaya yang telah dikeluarkan dan tidak mungkin kembali. Para ekonom menyebutkan perilaku ini “irasional”: tidak efisien karena salah mengalokasikan sumber daya dengan bergantung pada informasi yang tidak relevan dengan keputusan yang telah dibuat. Bahasa sehari-hari, ini dikenal sebagai “membuang uang baik setelah buruk”.

Faktanya sunk cost sering digunakan ketika menganalisis keputusan bisnis, contohnya biaya promosi, biaya riset and development. Pemasaran(promosi) serta riset dan pengembangan pasti menimbulkan biaya yang biasanya tidak bisa dipulihkan. Setelah dikeluarkan, biaya tersebut hangus dan seharusnya tidak mempengaruhi keputusan harga masa depan. Kesalahan tersebut dalam game theory dikenal sebagai “Kekeliruan Concorde”.

Dilema Sunk Cost
Sunk cost tidak dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan karena dapat menyebabkan keputusan irasional. Situasi ini dapat digambarkan dengan teori permainan pendekatan untuk 1-player game.

Bygones Principal adalah teori ekonomi yang digunakan dalam bisnis. Teori ini menekankan pentingnya mengabaikan biaya masa lalu dan hanya mempertimbangkan biaya masa depan serta manfaatnya ketika membuat keputusan. Hal ini menunnjukkan ketika membuat keputusan, seseorang harus melakukan perhitungan matang dari biaya tambahan akan dikenakan dan berapa besar manfaatnya  terhadap keuntungan ekstra.

Contoh
Pada akhir 1980-an, PLTN USA belum siap beroperasi setelah menghabiskan miliaran dolar. Dari sudut pandang ekonomi, milyaran dolar dari investasi masa lalu tidak termasuk dalam pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Pass Principal menyatakan bahwa milyaran dolar dari biaya masa lalu tidak relevan lagi. Dari sudut pandang ekonomi, relevansi menyangkut biaya masa depan dan manfaat – yaitu, manfaat ekonomi dari listrik yang akan dihasilkan. Jadi dalam perhitungan ini sunk cost miliaran dolar tadi tidak relevan untuk biaya masa depan dan manfaat sehingga sunk cost tersebut diabaikan. Biaya masa depan PLTN akan lebih kecil. Sebuah analisis murni ekonomi menyimpulkan bahwa cara tersebut paling efisien untuk menyelesaikan konstruksi dan membuka PLTN. Namun, karena berbagai alasan, termasuk sunk cost, pabrik itu ditutup pada tahun 1989 tanpa pernah menghasilkan tenaga listrik komersial.

Sunk-Cost Tidak Masuk Perhitungan
Cash flow yang boleh diperhitungkan dalam analisa capital budgeting hanyalah cash flow yang terpengaruh dari hasil keputusan capital budgeting tersebut. Sunk cost adalah biaya yang sudah terjadi di masa lalu dan tidak akan muncul lagi dari suatu proyek atau investasi baru. Oleh karena itu, menjadi tidak relevan untuk memperhitungkan sunk cost dalam suatu analisa capital budgeting, karena biayanya sudah terjadi sementara keputusan investasi yang diambil baru akan terjadi di masa depan.

Misalnya: ketika suatu perusahaan melakukan riset pasar (riset and development) terhadap produknya maka semua biaya yang dikeluarkan untuk riset tersebut adalah sunk cost sehingga ketika melakukan evaluasi capital budgeting sebelum produksi dijalankan, sunk cost tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan, karena memang biayanya sudah terjadi dan tidak akan terjadi lagi di masa depan.

Referensi :

http://managementfile.com/column.php?id=1413&page=finance
http://mit.dspace.org/bitstream/handle/1721.1/7384/4457-04.pdf?sequence=1
http://en.wikipedia.org/wiki/Sunk_costs
http://www.businessdictionary.com/definition/sunk-cost.html#ixzz1lJqVvPTP
http://www.proz.com/kudoz/english_to_indonesian/bus_financial/636817-sunk_cost.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Sunk_costs

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s